Ibunda para Ulama (review buku) part 1

Bismillah,

semoga tulisan ini dapat menjadi umur kedua bagi kami. dan semoga anak keturunan kami pun mendapatkan pahala karenanya aamiin.

 

Buku Ibunda para Ulama ditulis oleh Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, Alhamdulillah buku ini sudah memasuki cetakan ke-10…yang berarti buku ini sangat diminati terutama oleh para Ibu, calon Ibu dan semua wanita.

inb_ibunda_ulama-500x600

Buku ini dibuat dengan gaya bahasa yang simpel dan mudah dipahami apalagi oleh saya. buku ini menjadi buku yang wajib dibaca oleh semua baik bapak,ibu, mas2, mbak2 dan anak2 dari buku ini banyak hal yang bisa kita ambil hikmah. bahkan dihalaman hampir terakhir dari buku ini mengisahkan tentang Ibunda Mujahid Muda. berikut kisahnya.

Ibnul Jauzy dalam Shifatus Shafwah dan Ibnus Nahhas dalam Masyaariqul Asywaaq, mengisahkan dari seorang shalih yang bernama Abu Qudamah Asy-Syami…

Abu Qudamah konon adalah orang yang hatinya dipenuhi kecintaan akan Jihad Fii Sabilillah…  tak pernah ia mendengar tentang jihad fii sabilillah atau peperangan antara kaum muslimin dengan orang kafir, kecuali ia turut serta bertempur di pihak kaum muslimin.

suatu ketika saat ia sedang duduk di Masjidil Haram, ada seseorang yang menghampirinya seraya berkata : “Hai Abu Qudamah… Engkau adalah orang yang gemar berjihad di jalan Alloh; maka ceritakanlah peristiwa paling ajaib yang pernah engkau alami dalam berjihad…”

“Baiklah, aku akan menceritakannya pada kalian” kata Abu Qudamah

Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa orang sahabatku untuk memrangi kaum salibis di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan… Dalam perjalanan itu aku melalui kota Raqqah (sebuah kota di Iraq, dekat sungai Effrat). Di sana aku membeli seekor unta yang akan aku gunakan untuk membawa persenjataanku… Di samping itu aku mengajak warga kota lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam Jihad dan berinfak fii sabilillah.

menjelang malam harinya, ada orang yang mengetuk pintu… tatkala kubukakan, ternyata ada seorang wanita yang mentupi wajahnya dengan gaunnya…

“Apa yang anda inginkan?” tanyaku

“kamukah Abu Qudamah?” katanya balik bertanya

“benar” jawabku

“kamukah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?” tanyanya kembali

“ya benar” jawabku

maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis…

pada kertas itu tertulis :”Anda mengajak kami untuk ikut berjihad, namun aku tak mampu untuk itu, maka kupotonglah dua buah kuncir kesayanganku* agar anda jadikan sebagai tali kuda anda… kuharap bila Allooh melihatnya pada kuda anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya…”

“Demi Allooh, aku kagum atas semangat dan kegigihannya untuk ikut berjihad, demikian pula dengan keriduannya untuk mendapatkan ampunan Allooh dan SyurgaNya” kata Abu Qudamah

Keesokan harinya, aku bersama sahabatku beranjak meninggalkan Raqqah… Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin ‘Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggilnya: “Hai Abu Qudamah… Hai Abu Qudamah… tunggulah sebentar, semoga Alloh merahmatimu…” teriak orang itu

“Kalian berangkat saja duluan, biar akuyang mencari tahu tentang orang ini,” perintahku pada para sahabatku

ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan:”Segala puji bagi Allooh yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolakku dengan tangan hampa…”

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku,

“Aku ingin ikut bersamamu memerangi orng kafir,” jawabnya.

“Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat… kalau kamu memang cukup dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima; namun jika masih kecil dan tidak waib berjihad, terpaksa aku tolak” kataku

siapakah dia? bagaimana kelanjutan kisah ini?

Insyaa Allooh akan kita lanjutkan di part 2

 

nb : *)Ibnul Jauzy dalam komentarnya mengatakan “Wanita ini niatnya baik namun caranya keliru, karena ia tidak tahu bahwa memotong kuncirnya adalah perbuatan terlarang. karenanya, dalam hal ini kita hanya menyoroti niatnya saja.” (Shifatus Shafwah I/159)