Becanda Tapi DUSTA?! HATI-HATI!!!

Bismillah,

Alhamdulillah dah masuk awal bulan, siap-siap terima gaji bagi pegawai dan memberikan gaji bagi sang Pengusaha. hehehe

bila dilihat dari kalender Masehi kita skrg masuk ke bulan April. sedangkan untuk kalender Hijriyah, Alhamdulillah, kita mau masuk bulan Sya’ban. hmmmmm menunggu

nah dibulan April ini ada kegiatan yang kayaknya udh menjamur ya,, padahal ini SALAH!!! Tau kan apa namanya? April Mop atau fools day atau bahasa kerennya waktune bujuk. Na’udzubillah. kenapa kawan mengikuti hal yang sia-sia seperti itu. ketahuilah bahwa sesungguhnya Islam sudah mempunyai syariat dalam bercanda. Islam bukan agama yang kaku, bukan pula agama yang tidak ada guyonnya. bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sering bercanda dengan para istri-istrinya maupun dengan sahabat-sahabat beliau. yaa semua ada aturannya.

lucu yg salah
Lucu tapi Dusta!!!

mengutip dari muslimafiyah

Ada Rules atau aturan atau adab-adab yang kita gunakan dalam becanda yaitu :

  1. Terkadang bercanda bisa membuat orang lain sakit hati padahal kita tidak berniat untuk menyakiti harinya, hanya sekedar bercanda. Karenanya harus berhati-hati. Sebagaimana kisah bercandanya Rasulallah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada seorang nenek tua, beliau mengatakan bahwa tidak ada nenek-nenek di surga, sehingga nenek tersebutpun pergi dengan sedih dan tentunya beliau segera memanggil dan menjelaskan yang sebenarnya. Bisa dilihat pada hadits berikut.

    عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَتْ: (يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ) فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلاَنٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ. قَالَ: فَوَلَّتْ تَبْكِي فَقَالَ: (( أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا عُرُبًا أَتْرَابًا }

    Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Seorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah)[1]

  2. Ketika bercanda jangan sampai berdusta, bercanda dengan berita yang bohong atau tidak benar, meskipun yang disekitarnya senang dan bahagia. Di zaman sekarang bercanda terkadang keterlaluan, sampai berdusta dan mengarang cerita yang bohong. Ini sering dilakukan oleh pelawak-pelawak untuk melariskan “dagangannya”.  Ini ada ancamannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau  bersabda

    وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.

    “Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.[2]

celakalah
Celakalah

   3.

Tidak boleh bercanda dalam urusan agama khususnya mengolok-ngolok. Misalnya: ketika membaca Al-Fatihah “waladhoompet” di jawab “aambiill”

“Mengatakan kambing pada orang yang menjalankan sunnah memelihara jenggot”

“Mengatakan “ninja” pada wanita yang menerapkan sunnah cadar”

 

Bahan untuk bercanda masih sangat banyak dan beragam, jangan memakai agama sebagai bahan bercanda dan mengolok-ngolok. Ini yang paling berbahaya dalam bercanda atau bermain-main.

 

Sebagaimana firman Allah ,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ () لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“ (Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah : 65-66)

untuk adab yang lain bisa di lihat di muslimafiyah

 

YAA itulah kawan, bahwa Islam memperbolehkan kita untuk becanda. bahkan para Ulama Salaf Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi Rahimahullah sering becanda. salah satu canda beliau yang ana menukil dari buku Biografi 60 Ulama Ahlussunnah karya Syaikh Ahmad Farid adalah sebagai berikut :

  1. penulis Al-Marah fi al-Mizah menyebutkan seseorang bertanya kepada Asy-Sya’bi tentang mengusap jenggot, maka beliau menjawab “sela-selailah dengan jari-jarimu” orang yang bertanya menimpali “Aku Khawatir bila tidak membasahinya” Asy-Sya’bi pun menjawab ” Bila engkau khawatir, maka rendamlah sejak awal malam” (langsung ketawa dong bila baca ini…gimana repotnya bila harus merendam jenggot sejak awal malam?!)
  2. Dari Amir bin Yasaf, dia mengatakan, Asy-Sya’bi mengatakan kepadaku “Bawalah kepadaku segolongan dari ahli hadits” Kami pun keluar, lalu lewatlah seorang pekerja yang sudah tua, maka Asy-Sya’bi bertanya kepadanya, “Apa Pekerjaanmu?” Orang Tua itu menjawab “Menjahit” Asy-Sya’bi berkata “Kami punya periuk pecah, apakah engkau bisa menjahitnya untuk kami?” maka orang tua itu berkata “Jika engkau berikan kepadaku benang dari pasir, maka aku akan menjahitkannya” Asy-Sya’bi pun tertawa (lucu banget kan ya kawan?? aku baca berkali-kali yoo teteap guyu kemekelen)

insyaa Alloh akan ada review buku tersebut ya, next project.

itulah kawan, boleh becanda akan tetapi ga yang nyelekit, ga bohong, ga membuat orang lain malu dan beberapa aturan lainnya. dan bukankah bila kita mengikuti kaum lain maka kelak kita akan dibangkitkan bersama mereka? mau dibangkitkan bareng sapa? Umat Rasulullah? atau Kafir? pikirkan kawan, cari bekal yang terbaik.

Alhamdulillah, selesailah tulisan ini. semoga tulisan ini bisa sebagai penebus kesalaha-kesalahanku yang telah lalu dan bisa sebagai pemberat amalku di hari kemudian aamiin

tinggalkan komen dibawah yaa, yuk diskusi dengan baik

Jazaakumullah khairan katsiran