Rumah satu pintu

Bismillah,

Alhamdulillah mood nulis sedang tinggi jadi ide-ide yang tersimpan mulai diunggah satu persatu. Kali ini, saya ingin menceritakan tentang rumah orang tua saya. Bukan bermaksud curhat ataupun ngersulo tapi hanya sebagai pengingat diri bahwa dari sini lah saya berasal.

Rumah satu pintu, yaa bener itu bukan kiasan ataupun sindiran, Alhamdulillah rumah orang tua saya hanya punya 1 pintu yaitu pintu depan untuk masuk ke rumah. Saya baru menyadari hal ini setelah adik ipar saya yaitu Ani menanyakan tentang kondisi kamar mandi kami yang tidak berpintu, dan menurut dia juga yang lain adalah ANEH. Alhamdulillah saya tidak tersinggung dengan pertanyaannya dan dari sana Alhamdulillah menambah kedekatan kami.

Rumah saya terletak di kota Surabaya, Jawa Timur. Di suatu wilayah yang sangat hidup dan perekonomian disana sangat cepat berputar. Alhamdulillah, jika kita berani dagang, hanya berdagang sticker (waktu kecil dulu saya dan adik saya sempet jualan sticker di depan rumah, Alhamdulillah laris meskipun setelahnya diomeli Ibu karena mengambil sticker yang ditempel dikerjaan beliau…hehehe maaf yaa bu). Back to topic. tepatnya di deket wisata religi Sunan Ampel surabaya. Kebanyakan warga disini berasal dari etnis madura dan jawa, ada sih satu atau 3 keluarga yang keturunan arab atau cina tapi sudah melebur bersama dan biasanya saya memanggil temen saya itu koko jadi setelah dewasa saya baru ngeh kalo itu sebenernya panggilan untuk kakak atau adik di bahasa cina.

IMG-20190720-WA0001
kebiasaan warga di kebon dalem, sarapan rame-rame

Rumah orang tua saya merupakan pemberian kakek buyutnya Ayah kepada Ayah rahimahullah, rumah itu kami tinggali sedari saya masih bayi. Seingatku, dulu disebelah rumah ada semacam tempat mandi umum atau semacam sumur yang sekarang sudah berubah jadi rumah tetangga saya. Menurutku, ukuran rumah ortuku ini cukupan lah buat kami tinggal dan secara dirumahku ini beberapa kawanku juga pernah menginap beberapa hari dirumah ini dan lagi mereka tidak mengeluh akan hal luasan rumah. hmmmm. Alhamdulillah ukuran rumah ortuku adalah 2 x 12 m. dengan pembagian ruang sebagai berikut : ruang depan yang fungsional (bisa jadi dapur untuk katering mama, jadi tempat tidur kami saat menginap dirumah, jadi ruang tamu, jadi ruang belajar, jadi ruang menonton tv, tempat sholat dan satu-satunya ruangan yang berpintu), lanjut ruang berikutnya adalah ruang tengah disini berisi 1 ranjang besi (yang usianya lebih tua daripada usia ayah Rahimahullah) 2 Lemari pakaian; beberapa keranjang penyimpanan dan perkakas katering mama, terakhir adalah ruang belakang yang terdiri dari dapur dan kamar mandi (tak berpintu). Antara ruang 1 dengan ruang lain hanya dibatasi kain gorden. Bisa dibayangin ga? atau perlu home tour ya? hehehehe

edit rmh
waktu idul adha 3 tahun lalu didepan pintu rumah

Alhamdulillah ayah rahimahullah membesarkan kami dirumah tersebut dan Alhamdulillah kami pun tumbuh besar tanpa kendala yang berarti. Alhamdulillah ayah rahimahullah dikaruniai keturunan 4 anak, 2 perempuan dan 2 laki-laki. Semuanya pun tumbuh besar, kecuali aku tentunya.

Ooh iya, dulu sewaktu aku kecil ruang depan fungsional itu juga sebagai tempat penyimpanan sepeda motor, jadi kalo ada yang cerita tentang tidur berpelukan dengan sepeda motor, Alhamdulillah aku sudah mengalaminya. hehhehee

sekali lagi, disini tidak bermaksud menelongsori diri yaaa tapi bermaksud untuk menjadi pengingat bagiku agar inget darimana aku berasal.

Seingetku dulu temen-temen SMF dan kuliah beberapa kali bermalam dirumah, dan kami pun menikmati kebersamaan kami, sebenernya sih yang nginep dirumah tuh karena mencari makanan gratis. Alhamdulillah mama mempunyai usaha catering sejak aku mulai kuliah sekitar awal tahun 2005, jadi temen-temen pasti sukalah untuk menginap dirumah, dan biasanya mereka disuguhi makanan yang mereka jarang temui seperti gulai maryam, lontong cap gomeh, sop buntut, nasi kebuli krengsengan, sate kambing dan lain-lain. Terkadang ada temen yang nanyain “Mamamu masak apa may, aku tak nginep omahmu yo?” dan aku hanya mengernyitkan dahi kemudian tiba-tiba mereka sudah sms dan tertulis “may, aku nang ngarep gangmu” heeeeeee

Alhamdulillah ayah rahimahullah maupun mama selalu menerima temen-temenku juga temen-temen adikku dengan baik, mungkin pikir mama dan ayah rahimahullah lebih baik temen-temen yang nginap dirumah kami daripada aku yang menginap dirumah temen-temen karena temen-temenku kebanyakan dari luar kota sih. hehehehe

Dari rumah berpintu satu itu aku dibesarkan dan mengenal hidup ini, bahwa hidup ini harus diperjuangkan tidak bisa hanya duduk manis kita menerima hasil kerja orang lain. Nasihat yang selalu ayah rahimahullah ingetkan adalah “Urip iki duduk gae saiki tok Maya, sek suwe uripe awakdewe ki” maksudnya “Hidup ini bukan hanya untuk sekarang saja Maya, masih lama kehidupan kita ini”. jadi maksudnya beliau adalah hidup ini memang keliatannya hanya buat sekarang tapi yakinilah bahwa kehidupan yang Allooh Azza Wa Jalla ciptakan untuk kita itu masih panjang dan masih banyak yang akan kita perjuangkan plus pertanggung jawabkan. Nasehat yang pas buat kita saat ini.

rumah sby
rumahku yaa didepan sepeda motor.

Qadarallah ayah telah berpulang sejak tahun 2016, akan tetapi aku akan selalu mengingatnya. Jazaakallahu khairan Ayah.

Dari rumah berpintu satu, aku bisa banyak mengenal lingkungan keluarga lain dan juga lingkungan lain. Dari rumah berpintu satu aku tumbuh belajar dan belajar. dan dari rumah berpintu satu, aku senantiasa bersyukur Alhamdulillah Allooh memberi kami rezeki rumah dan gratis tanpa harus memikirkan biaya kontraknya tiap bulan. Dari rumah berpintu satu, aku tumbuh menjadi orang yang PD dengan kemampuanku (tentunya tak lepas dari kuasa Allooh Azza Wa Jalla), dan dari rumah berpintu satu, kedua orang tuaku mengajarkan aku untuk tidak mengeluh pada orang lain tentang kondisi kami.

SubhannAllooh beberapa orang yang pernah aku temui terkadang malu dengan rumahnya, dan terkadang merasa minder dengan rumah ortunya. Terkadang aku sampai binggung, kenapa ya temenku atau saudaraku ini malu dengan rumahnya? Padahal luasan rumahnya lebih besar dari rumahku, rumah ortunya sendiri, letak rumahnya di pinggir jalan, masih ada kamar tidur dirumahnya…terus apa yang membuat mereka malu? balik lagi pada masing-masing kita, yaitu bagaimana kita mengoptimalkan rasa syukur kita atas segala karunia yang telah Allooh berikan pada kita dan keluarga kita. Bagaimana cara mengoptimalkan itu? dengan membuat orang merasa betah dirumah kita, dengan kita tampil apa adanya. Jangan salah looh ya, Alhamdulillah temen-temen yang nginep dirumahku juga kebanyakan anak dengan ortu yang mempunyai tingkat ekonomi menengah keatas atau bahkan keatas seperti temenku SMF, bapaknya itu mempunyai tambang intan atau batu permata di martapura (tiap kali dia pulang, aku selalu dapat oleh-oleh batu mulia yang cantik) dan temenku kuliah, bapaknya pegawai di gudang garam Kediri dan satunya lagi anak dari juragan Tembakau di Probolinggo.

Kadang aku merasa kasihan dengan orang yang sudah Allooh berikan rumah sedemikian bagusnya dan gratis (warisan ortu) tapi masih merasa mereka miskin dan menampilkan diri sebagai orang miskin tetapi disebut miskin tidak mau. Repot kan?

Kalo memang tidak mau disebut miskin kemudian dibelas kasihani orang ya jangan berpenampilan yang membuat orang itu nelongso, hargailah diri kita agar kita pun dihargai orang lain. Bukankah sudah jelas bahwa kita dilarang untuk menampilkan kesedihan kita dihadapan manusia? mungkin waktu datang kajian tidak menyimak dengan baik materi yang disampaikan oleh ustadz. Hadayallah.

Alhamdulillah suamiku dan keluarga inti kami menerima keadaan rumah berpintu satu, Ibu juga bila berkunjung kerumah berpintu satu menyempatkan diri untuk sekedar melepas lelah ataupun menyegarkan badan dengan mandi. Padahal secara penghasilan Ibuku ini adalah pensiunan guru dan beliau mempunyai rumah di Madiun yang menjadi tempat suamiku dibesarkan dan rumahnya nyaman.

Ketika awal menikah, Alhamdulillah kami tinggal di sebuah kamar kos (2 bln pertama) kemudian pindah di rumah mungil (3 tahun awal pernikahan), rumah kami selalu terbuka buat saudara ataupun kawan yang ingin berkunjung atau menginap dirumah kami, semuanya karena belajar dari rumah berpintu satu.

Masyaa Allooh tidak terasa sudah 1 jam menulis disini yaa. hehehe

Waktunya kembali bekerja di rumah.

Akhir kata saya tuliskan Jazaakumullah khairan