Flash back

447814651_206310.jpg

Bismillah, tulisan ini aku persembahkan untuk salah seorang sahabat yang cukup lama kami sudah bersahabat, dari putus nyambung dan berbagai intrik Alhamdulillah sudah kami lalui dan kemaren siang dia telah mewujudkan impian terbesarnya selama ini.

Dia adalah dr. Kamalia Hasanah, Sp.OG, M.Ked

Bila mengingat persahabatan kami rasanya harus flash back ke tahun 2003, subhannAllooh udah 16 tahun kami saling mengenal. Kami saling mengenal karena sama-sama menimba ilmu di salah satu LBB Nurul Fikri Surabaya di Program Ronin angkatan 2003. Ternyata sudah tua ya. hehehe

Sebenernya program Ronin ini ditujukan untuk para alumni SMA atau yang sederajat untuk persiapan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Karena saya bukan alumni SMA biasa yang mana mata pelajarannya jauh dari mata pelajaran yang diujikan saat SPMB, jadi program ini  Alhamdulillah sangat membantu saya. Juga karena waktu belajarnya yang fleksibel yaitu bisa sesuai kebutuhan kita, yang mana waktu itu saya mengambil jam pelajaran sore sehingga pulang kerja dri RS.Dr Soetomo Surabaya saya bisa langsung meluncur ke markas LBB tersebut. Alhamdulillah Allooh memudahkan saya untuk mengatur waktu sedemikian rupa hingga semua asa bisa saya raih.

Awal masuk ronin, minder banget karena rata-rata prodi yang jadi incaran temen-temen adalah Fakultas Kedokteran, kalo saya yang biasa-biasa aja lah yang penting masih di Surabaya dan masuk Universitas Negeri. Pertama masuk, jumlah peserta belajarnya hanya 7 orang (3 akhowat dan 4 ikhwan), waktu itu kamal belum ikut kayaknya dan dia baru bergabung dengan kami ketika akhir semester 1.

Pelajaran yang terberat menurut saya waktu itu adalah Matematika IPA, binggung dengan rumus dan berbagai hal yang harus disinkronkan tapi blas otak saya tidak tersambung. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Alhamdulillah matpel yang lain bisa dengan mudah saya kuasai, meskipun belum sehebat teman-teman, tapi untuk urusan matpel Kimia Alhamdulillah mereka banyak menjagokan saya, lah gimana gak hafal kimia longan dari awal masuk SMF sudah ada 3 matpel kimia (Kimia Organik, Kimia AnOrganik dan Kimia Analisa). Setelah Kamal gabung dalam kelas, menjadikan kelas kami semakin semarak dan kami pun semakin semangat saling bahu membahu dalam membantu temen-temen yang kesulitan dalam pelajarannya.

LBB ini basicnya beda dengan LBB pada umumnya, mereka juga memasukkan mata pelajaran Bimbingan & Informasi Pendidikan (BIP) disini kami tidak hanya diberikan kunci-kunci atau kisi-kisi ujian saja tapi kami pun digembleng dalam sisi agama (yang kemudian hari, aku pun tidak sepakat dengan hal ini). Sebenernya di LBB ini pula aku menemukan arti diriku sesungguhnya, bahwa aku bukan hanya bisa jadi seperti yang saat itu tapi aku bisa meraih mimpi yang lebih baik lagi untuk memperbaiki hidupku.

Saat itu yang akhowat ada beberapa nama Soraya (dari papua ingin masuk FK Unair atau minimal FKG Unair) ; Suci (asli surabaya ingin masuk jurusan HI Unair) ; Liana ( Surabaya, udah kuliah di FKG Unair tapi pengen kuliah FK Unair) ;  Kurnia (surabaya, sudah kuliah di FKG Unair tapi pengen kuliah FK Unair) ; Uni (Gresik, pengen kuliah di FK Unair) ; Kamal (Banyuwangi, pengen kuliah FK Unair); Maya (Surabaya, jurusan apa aja yang penting Kuliah di Universitas Negeri di Surabaya) dan ada satu lagi nama, subhannAllooh aku lupa sapa ya?!

Tau sendiri kan model cewek meskipun dipanggilnya akhowat yaa tetep aja nge-gank. Alhamdulillah karena kami rata-rata pengen masuk Unair jadi lah belajar bareng (bebar), qadarallah saya jarang bisa ikut karena jadwal bebar pas dengan jadwal saya kerja jadi sesudah jadwal les biasanya saya menyempetkan diri bertanya pda temen-temen materi bebar mereka tadi pagi apa, dan masyaa Allooh bener-bener membantu terutama Kamal. Pokoknya yang maksain saya untuk bisa masuk Unair adalah Kamal, hehehe. sebenernya kalo inget Kamal, saya langsung teringat adik saya, Ayu, mirip banget mereka nih. dari bentuk tubuh, gaya bicara, manjanya, dan hal-hal lain banyak MIRIP, jadi menurutku Kamal = Ayu yang berarti Kamal saudaraku.

Sebenernya ada kejadian spesial dengan Kamal yang membuatku tak bisa melupakannya, yaitu prosesi berhijab. Awal ketemu Kamal, dia belum berhijab sedangkan semua temen-temen udah berhijab, polos bangetlah nih anak. apalagi dia datang dari Banyuwangi atau yang sering dia sebut H2Oharum, secara kota yang mempunyai ritme berbeda dengan Surabaya. Juga dia merasa heran dengan saya, yang udah kerja tapi masih pengen kuliah, padahal kan kuliah itu untuk cari kerja juga ya?! halah embuh kah.

Prosesi berhijab ini merupakan teguran atau bentuk perhatian kasih sayang temen-temen ikhwan pada Kamal, yang di kemudian hari salah satu ikhwan “resek” yang memaksa Kamal berhijab itu menjadi suaminya (Masyaa Allooh), waktu itu saya janjian dengan Kamal memakai salah satu ruang kelas yang kosong untuk memperdalam Fisika kalo ga salah babnya tentang Gerak. Tiba-tiba tuh berombolan ikhwan datang gitu aja masuk ke kelas dan menyabotase pelajaran kami, dan mereka menanyakan begini “Da, awakmu iki ga popo tah gumbul mbek arek wedok sing ngene?” kontan kan saya binggung ya?! dengan polos saya pun menjawab “ga papa lah, emang kenapa? wis ga sah ngrusuhi wong sinau. ndang ngalih.” dengan posisi Kamal masih menulis di papan tulis. Terus mereka masih nyerocos, bahkan ada yang mengomentari kalo kerjaan Kamal di papan tulis itu salah. waktu itu saya bener-bener binggung, karena ga tau harus bersikap bagaimana dan risih aja ada segerombolan ikhwan tiba-tiba nyelonong gtu. ada satu perkataan yang membuat Kamal langsung marah yaitu (kalo ga salah) “wedok opo lanang kok ga jilbaban?” waktu itu saya spontan langsung menghardik mereka dan mengusir mereka dengan tegas “hee karepe kalian iki opo sih? nek niate dakwah yo sing alus bosone ojok ngene. lagian itu urusan masing-masing orang lapo kok melu campur?!” dengan posisi saya sudah berdiri dibelakang Kamal. Melihat respon saya yang seperti itu, Alhamdulillah mereka keluar dengan perlahan dan tetep ada yang masih sempet benerin kerjaan Kamal di Papan Tulis, hmmmm yooo gemes!!! Tahukah kalian, ternyata Kamal mulai menangis, dengan berusaha keras dia mencoba tetep bertahan mengerjakan soal Fisika yang sedang dia jelasin ke saya. Saya pun memeluknya dan saya sampaikan bahwa yang temen-temen lakukan itu karena mereka sayang dengan Kamal, meskipun saya juga sangat tidak setuju dengan cara mereka yaa. dan Kamal tetep ngeyel untuk mengerjakan soal Fisika itu, ternyata yaaa ikhwan-ikhwan itu tidak pergi melainkan beberapa dari mereka mengamati kami dari sudut jendela, Alhamdulillah ‘ala kulli hal ingin rasanya penghapus papan tulis itu aku lempar ke mereka. SEBEL!! Fisika ga tuntas malah terserang secara psikis. aku pun membereskan peralatan belajar kami, dan memohon kepada Kamal untuk menyudahi acara belajar kali ini. Alhamdulillah Kamal menyetujuinya dan aku pun mengantarkan dia kembali ke kos karena waktu itu gerimis mulai turun.

Saat di atas motor, Kamal tanya “May, mulai kapan pake jilbab?” aku menjawabnya “pas SMP aku wis gawe mel, trus pas SMF ibuku ga gelem nek aku gawe jilbab, terus pas ku lulus SMF aku ngeyel gawe jilbab, Alhamdulillah sampe saiki mel” dan disahuti dengan “oooh gtu” by Kamal. Saat dia turun di depan kosnya, dia mengatakan “aku yo pengen gawe jilbab may, tapi durung ngerti kapan” dan aku pun menyambutnya dengan senyum manis sembari “semoga Allooh gampangno ya mel” terus aku pun lanjut kerja di Apotek Hendrika.

Keesokan harinya saat bimbel, aku sempet bahas peristiwa keesokan harinya dengan beberapa ikhwan plus kakak tentor disana, Alhamdulillah kakak-kakak tentor mendukungku dan menyalahkan mereka, puas rasanya!! Dasar ikhwan masih labil. Qadarallah Kamal ga masuk, tanpa keterangan pula. saat itu aku langsung menyalahkan temen-temen ikhwan, sedangkan temen-temen akhowat binggung melihatku marah banget ma ikhwan2 itu. Sepulang bimbel, aku sempetin tuk ke kos Kamal, ternyata dia demam, Yaa Allooh mesake banget. Akhirnya aku nawarin diri untuk membelikan dia sesuatu dan obat, ternyata dia menolak karena semua udah tersedia tapi dia mempunyai keinginan untuk aku ajak dia ke Masjid Sunan Ampel dan aku pun mengiyakannya. Kami janjian untuk ke Masjid Sunan Ampel hari Ahad atau hari apa gtu aku lupa.

Seperti biasa aku menjemput Kamal di kosnya, kemudian kami pun meluncur ke Masjid Sunan Ampel, lokasi masjid ini deket banget dengan rumahku jadine aku ga ngeh kalo kesana juga harus pake jilbab karena biasanya saat aku kesana tanpa berjilbab pun (Saat aku belm baligh) ga ditegur orang…nah ini Kamal, ditegur plus dikasih jilbab yang diminta bapak2 tersebut tuk memakainya, binggung banget kan? SubhannAllooh hidayah Allooh memang banyak jalan dan cara, jadi kadang datang tanpa kita sangka. Saat itu Kamal menangis tergugu, aku sampai khawatir, dan kami pun berhenti sejenak di salah satu warung bakso di area gubah ampel. terjadilah percakapan itu.

Kamal : May, aku pengen berjilbab saiki. gimana menurutmu?

Aku : Alhamdulillah mel, apa yang masih membinggungkanmu? aku pasti mendukungmu lah.

Kamal : ntar gimana ya reaksi abahku?

Aku (binggung) : lah kan awakmu wis manggil abah, sing iku boso arab otomatis abah kamal pasti tahu kan aturan dalam Islam tentang anak wedoke

Kamal : iya sih may, tapi abahku iki mu’alaf dan nenekku masih hidup

Aku (masih binggung) : Mel, kan wis pengen coba didiskusikan sama abah dan ummimu

Kamal : (diem)

Aku : Emang kenapa dengan nenekmu dan Abah yang mu’alaf?

Kamal : May, aku masih keturunan tionghoa dan nenekku hanya punya anak satu yaitu abahku, terus abahku itu menikah dengan ummiku dan beliaupun masuk islam itu terjadi pas aku belum lahir sih may, tapi kan?! (kata-katanya berhenti)

Aku : Mel, Alhamdulillah hujan (hidayah) sudah datang dalam kehidupanmu, tapi bila Mel masih ingin gerimis dulu ya perlahan mel. Aku yakin Allooh Maha Mengetahui kemampuan hambaNya.

Kamal mengangguk. Selesai pembicaraan kami, aku pun mengajak Kamal datang ke rumahku rumah satu pintu. Alhamdulillah Kamal nyaman di rumahku dan keluargaku pun menerimanya dengan baik, setelah isya’ aku pun mengantar Kamal kembali ke kosnya.

Selang beberapa hari, karena waktu itu stock opname di RSDS, aku ijin dari bimbel. setelah stock opname di RSDS selesai, aku kembali bimbel daaaaan Masyaa Allooh aku melihat Kamal dalam balutan gamis dan berjilbab. waktu pertama melihatnya, aku menahan rasa gembiraku, karena waktu itu pelajaran udah mulai dan aku datang terlambat. saat istirahat, Kamal langsung ke mushola untuk menunaikan sholat Ashar. sedangkan aku diinterogasi dengan penghuni ronin, hehehehe…. mereka penasaran dengan cerita hujan ala Kamal. Alhamdulillah sejak itu dan semoga sampai akhir waktu kami pun berjilbab.

Alhamdulillah itu sedikit cerita tentang dr. Kamalia Hasanah, Sp.OG, M.Kes yang kemaren tanggal 11 Desember 2019 telah lulus dari kuliah spesialisnya. Baarokallahu fiikunna dokter Kamal semoga ilmunya bermanfaat buat semua terutama Ummahat Indonesia.

 

Jazaakumullah khairan telah membaca kenangan ini

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s